Monday, May 05, 2008

Enggano Pulau Terluar "Kaya Potensi"

Secara administratif Pulau Enggano (Kecamatan Enggano) masuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dengan letak Geografis 102,05 – 102,25 Bujur Timur dan 5,17 – 5,31 Lintang Selatan. Luas pulau Enggano sekitar 40.000 ha, yang terdiri dari 6 desa yaitu; desa Banjarsari, Meok, Apoho, Malakoni, Kaana dan desa Kahyapu dengan pusat pemerintahan di desa Apoho. Dari luasan yang ada; 3.724,75 ha, merupakan hutan desa, 24.184 hutan ulayat, hutan nibung 719 ha, hutan waru 465,25 ha, rawa 1.967,75 ha, sawah 301,75 ha, perkebunan 2.614,50 ha, perkampungan 123,25 ha, hutan bakau 1.710,50 ha, hutan keramat 394,74 ha. Untuk lahan yang masih bermasalah atau belum jelas statusnya seperti areal eks PT. EDP dan Lapangan Terbang seluas 2.400 ha, lapangan terbang 202,25 ha. Dari luasan yang ada, Enggano hanya didiami oleh 1.927 jiwa yang terbagi kedalam 6 suku dan 6 desa yang ada dengan kepadatan sekitar 4,8 jiwa per km2.

Dari segi geografis sebenarnya Pulau Enggano lebih dekat ke Bengkulu Selatan dibandingkan dengan Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Utara. Jarak dari Kota Bengkulu ± 156 km (92 mil laut), jarak dari Ibukota Bengkulu Selatan (Manna) ± 96 km (60 mil laut) dan jarak ke Ibukota Kabupaten Bengkulu Utara 92 mil laut ditambah perjalanan darat dari Kota Bengkulu Ke Arga Makmur sepanjang 76 km.

Pulau Enggano merupakan salah satu pulau kecil di Pantai Barat Sumatera yang mempunyai panjang sekitar 45 km dan lebar 17 km (Dephut, 1998). Kondisi ekosistim pulau Enggano masih terbilang bagus kalau dibandingkan dengan pulau-pulau kecil lainnya disisi pantai barat Sumatera. Ekosistim Pulau Enggano Unik, dengan ekosistem yang unik ini maka P. Enggano lebih rapuh jika dibandingkan dengan ekosistem daratan. Gangguan sedikit saja pada salah satu unsur ekosistim yang ada akan berakibat terganggunya keseluruhan ekosistem pulau tersebut (Dirjen Pengusahaan Hutan, juli 1995).

Alat transportasi umum yang digunakan sampai saat ini adalah transportasi laut berupa kapal perintis yang merapat di Dermaga Malakoni 3 kali seminggu, dan KMP Raja Enggano yang merapat di Dermaga Kahyapu 2 kali seminggu, atau dapat juga menggunakan kapal nelayan (bobot 16 ton) bila transportasi umum mengalami gangguan (rusak atau perubahan trayek). Transportasi antar desa di Enggano lebih banyak memanfaatkan transportasi laut, karena fasilitas transportasi darat belum mendukung. Sarana jalan yang ada memanjang dari desa Banjarsari ke Desa Malakoni sepanjang 17 km berupa jalan pengerasan (campur batu karang) yang dibuat tahun 2002 dan desa Malakoni ke desa Kahyapu sepanjang 16 km masih berupa jalan tanah yang pada musim hujan sangat sulit dilewati.

Habitat yang penting adalah seperti hutan mangrove dan terumbu karang yang masih cukup baik kondisinya. Daratan pulau ditutupi sebagian besar oleh hutan dan dialiri oleh 5 sungai besar. Pulau Enggano merupakan salah satu kawasan Important Bird Area (IBA) dan juga termasuk dalam Endemic Bird Area atau EBA karena di pulau ini juga ditemukan dua jenis burung endemik yaitu Otus engganensis (burung hantu) dan Zoosterps salvadori (burung kacamata). Ditemukan tidak kurang dari 45 jenis burung dan banyak jenis lainnya belum teridentifikasi (belum ada pengamatan menyeluruh).
Belum terdapat data yang memadai mengenai jumlah dan jenis flora dan fauna yang ada di Enggano. Pulau Enggano juga banyak menyimpan potensi hasil hutan kayu dan non kayu seperti melinjo, rotan, manau, tanaman obat-obatan, dan hasil laut. Beberapa potensi ini belum dijadikan pilihan alternatif bagi masyarakat karena berbagai kendala yang dihadapi. (Tentang Enggano Akan dilanjutkan dengan berbagai persoalan dan kelebihan lainnya.. jadi tunggu aja yaa)..


No comments:

Post a Comment