Monday, December 15, 2014

Cinta dan Keterasingan Dalam Masyarakat Modern

Apa yang Anda harapkan dari globalisasi? Tentunya pertanyaan semacam ini pernah “mampir” di benak setiap orang, tidak hanya dikalangan ekonom, pelajar ataupun pekerja, bahkan masyarakat awam pun kini mulai terbiasa dengan kalimat tersebut. Globalisasi merupakan kata kunci bagi hadirnya modernitas, yang di satu sisi merupakan simbol bagi kemajuan peradaban umat manusia, namun di sisi lain membawa manusia untuk “keluar” dari peradaban manusia yang sesungguhnya.

Setiap hari manusia disuguhkan dengan realitas, tanpa pernah mempertanyakan kenapa saya harus menjalani realitas ini dan di saat yang sama pola pikir maupun gaya hidup manusia di bentuk oleh berbagai macam ideologi yang bertebaran di seluruh antero kehidupan manusia. Karena kini, ideologi bukan hanya sesuatu yang abstrak layaknya sebuah pedoman, namun telah menjelma menjadi produk “real” atau nyata, yang kerap digunakan oleh manusia. Sebut saja beberapa produknya seperti media, pendidikan hingga barang-barang kebutuhan.

Hal inilah yang kemudian menjadi gambaran umum kondisi manusia dalam masyarakat modern dewasa ini. Dimana situasi jaman modern tercipta berdasarkan kekuasaan yang bermain didalamnya dan dirancang oleh para petinggi atau penguasa dalam memenuhi standar modernisasi dan tentunya mengikuti arus globalisasi.

Globalisasi adalah ciptaan dari kapitalisme global sebagai aktor “behind the scene” dan manusia adalah figuran-figuran yang mengisi kotak globalisasi dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan didalamnya. Sampai salah satu dampaknya adalah muncul budaya massa atau budaya konsumen, yang merupakan tahapan ideal terakhir dari masyarakat modern. Pada tahap ini terjadi perimbangan antara produksi dan konsumsi yang terus menerus meningkat, sampai akhirnya tercipta kebutuhan-kebutuhan baru yang sebenarnya bersifat artifisial.

Menurut Jean Baudrillard proses artifisialisasi ini akan melahirkan sebuah dunia palsu, dimana manusia hidup dalam halusinasi realitas. Sedangkan realitas yang sesungguhnya dikalahkan oleh image, komoditi barang digeser oleh komoditi budaya dan substansi dikalahkan oleh sensasi. Dengan demikian tercipta budaya konsumerisme dengan ciri tindakan untuk memenuhi hasrat yang tidak akan pernah terpuaskan dan memang tidak dapat dipuaskan. Jadi, ketika manusia mengkonsumsi, itu bukan lagi merupakan tindakan untuk memenuhi kepuasan melainkan karena frustasi; bukan kreativitas dan ketenangan melainkan repetisi tanpa akhir, yang diselang-selingi dengan kekenyangan sesaat (Poole, 1993;190).

Inilah yang kemudian dinamakan wajah homo consumers oleh Erich Fromm. Ia mengatakan bahwa manusia berilusi bahwa dirinya bahagia, padahal dinamika bawah sadarnya menunjukkan bahwa ia telah bosan dan pasif. Akibatnya manusia modern teralienasi dari dunia disekitarnya. Selain daripada itu, kegiatan ekonomi dalam sistem perekonomian kapitalistik membuat kesejahteraan material dan kesuksesan telah menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Sehingga pada akhirnya manusia modern dituntut untuk menyangkal diri, yaitu bersedia diperalat untuk tujuan-tujuan lain diluar dirinya sendiri. Disinilah manusia modern mengalami keterasingan (alienasi) terhadap dunia. Berdasarkan situasi inilah, Martinus Satya Widodo dalam bukunya “Cinta dan Keterasingan” yang dikemas secara singkat dan praktis ini, berusaha mengungkapkan kemunculan sebuah alienasi sebagai akibat dari situasi modern atau “situasi membosankan” yang disebabkan oleh perkembangan dan kecenderungan dari sifat dasar manusia itu sendiri, dari sudut pandang Erich Fromm terhadap kapitalisme.

Kata alienasi merujuk pada pengertian dasar, seseorang atau sesuatu yang menjadi terasing atu terpisah dari seseorang atau sesuatu lainnya, karena suatu tindakan tertentu atau karena akibat dari tindakannya (Gajo Petrovic,1967:76) Sedangkan konsep alienasi yang paling tepat untuk menjelaskan kondisi kemanusiaan dewasa ini adalah konsep dari Erich Fromm. Menurutnya, alienasi menyentuh kepribadian masyarakat modern yang terdalam dan cocok untuk menjelaskan interaksi antara struktur sosial ekonomi dengan struktur manusia. Fromm mengartikan alienasi dalam arti filosofis, yakni alienasi diri dari dirinya sendiri, orang lain serta dunia, melalui tindakannya sendiri. (hal.35) Artinya manusia menghayati diri sebagai sesuatu yang asing, bukan pusat dunia dan bukan pencipta tingkah lakunya sendiri. Individualitasnya hilang karena ia telah kehilangan kebebasan positifnya untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan karsanya yang orisinal.

Hubungan antar manusia juga teralienasi, karena bersifat tidak langsung, saling memperalat, saling tidak memperhatikan dan dikendalikan oleh hukum pasar. Bahkan hubungan cinta antar sesama bukan merupakan hubungan cinta dalam arti yang sesungguhnya, karena sifat hubungan itu adalah tukar menukar “paket kepribadian”, dimana perhatian masing-masing pada “akuisme”-nya sendiri. Hubungan semacam ini dapat meningkatkan isolasi dan ketidakberdayaan yang mendalam. Untuk mengatasinya, manusia modern mengembangkan suatu mekanisme psikis sebagai bentuk pelarian diri dalam hubungan dengan sesama, yaitu karakter sadomasokistis (otoriter) dan karakter destruktif. (hal.85)

Fromm juga mengatakan bahwa manusia modern teralienasi dari dunia disekitarnya. Seperti dalam sistem perekonomian kapitalistik, manusia modern berusaha bersaing dalam tataran alur globalisasi, tanpa memahami maksud dan tujuan dibalik ideologi tersebut. Manusia modern telah menjadi pelayan bagi mesin perekonomian, padahal manusia adalah pencipta mesin tersebut. Alienasi pu berkembang akibat maraknya iklan di media massa. Karena image semata, manusia mengkonsumsi sesuatu secara irrasional dan tanpa sadar dibelenggu oleh egoisme, kepemilikan, hasrat, nafsu libidinal, prestise dan kekuasaan. (hal. 86)

Tampaknya alienasi akan cenderung meningkat dimasa depan karena tatanan kemasyarakatan akan menjadi semakin rumit dan kompleks, serta ancaman terhadap kehidupan semakin meningkat, seperti pengangguran struktural, perang nuklir, robotisasi, baik terhadap tekhnologi industri maupun terhadap manusia sendiri. Fromm menganjurkan upaya pemulihan alienasi ini tidak hanya terdiri dari adaptasi moril seorang individu terhadap masyarakat, tetapi juga ada kaitan erat antara pemulihan dari alienasi pada individu tersebut. Walaupun kedua hal tersebut tidak terpisahkan, namun juga tidak saling mereduksi. Oleh karena itu, strategi yang digunakan adalah stategi terpadu, yang berarti perubahan harus ada dari dua bagian atau lebih yang saling berkaitan. Sebagai contoh membangun kembali nilai-nilai kemanusiaan dalam lingkungan masyarakat industri, dimana masyarakat industri harus dikendalikan oleh akal budi dan bukan akal otak yang cerdas.

Buku ini menunjukkan efektivitas isi yang dikemas secara singkat dan jelas, mulai dari kemampuan manusia untuk menghancurkan, narsisisme dan fiksasi incest pada diri manusia hingga permasalahan tentang cinta, yang kini pada masa modern telah diletakkan dalam arti baru yang lebih luas, yaitu cinta kehidupan. Namun sayangnya kepadatan isi menunjukkan kompleksitas bahasan, dengan ditujukan oleh banyaknya kutipan beberapa pakar atau ahli, yang terkadang dapat membuat alur terlihat tidak menyatu, walau sesungguhnya isi makna dan bahasan berterima. Dengan membaca buku ini, pembaca dapat mengetahui dan memahami intisari dari gagasan dan karya-karya Erich Fromm, mengenai eksistensi manusia. Sehingga menjadi referensi tambahan bagi pembaca untuk dapat memulai menelaah kondisi manusia dalam realitas yang sesungguhnya.



No comments:

Post a Comment