Friday, November 27, 2015

Jejak Pembauran Melanesia dan Austronesia

Sumber Gambar: google / nationalgeographic.co.id

Secara klasik, manusia Indonesia biasanya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu penutur Austronesia dan penutur Papua. Pengelompokan ini terutama didasarkan pada perbedaan bahasa dan kebudayaan selain ciri fisik. Namun, hasil penelitian terbaru, pembauran budaya dan genetika di antara dua penutur ini sejak perjumpaan ribuan tahun silam. 
Orang Melanesia memang berbeda," kata Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya, dalam pembukaan Konferensi Internasional Melanesia, di Kupang, akhir Oktober 2015. "Kulit kami hitam, rambut keriting kriwil-kriwil," ujarnya.

Bukan hanya ciri fisik, kebudayaan Melanesia juga khas, seperti tenun ikat, arsitektur, dan seni ukir. "Dari 22 kabupaten/kota di NTT, 11 di antaranya punya latar belakang budaya Melanesia," katanya.

Konferensi dihadiri 200 peserta dari negara yang tergabung dalam Melanesian Spearhead Group (MSG), seperti Fiji, Papua Niugini (PNG), Kepulauan Solomon, Timor Leste, Kaledonia Baru. Indonesia diwakili masyarakat lima provinsi: NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Istilah "melanesia" awalnya disematkan penjelajah Perancis, Jules Dumont d'Urville (1790-1842) tahun 1832 untuk menunjukkan populasi manusia yang mendiami ujung barat Lautan Pasifik. Secara lateral, kata ini berasal dari bahasa Yunani, Melano-nesos, 'nusa-hitam' atau 'kepulauan hitam', sehingga kerap dianggap sebagai sebuah klasifikasi yang rasial.

Jadi, Melanesia awalnya lebih mengacu pada zona geografis. Belakangan kerap dipakai menyebut populasi. Gugus kepulauan itu saat ini berimpit dengan teritori sejumlah negara, yang lalu terhimpun dalam MSG; Indonesia menjadi anggotanya sejak pertengahan 2015.

Secara sederhana, keberadaan "Melanesia" di Indonesia ada di kawasan timur. Sebagaimana disebut Alfred Russel Wallace (1823-1913), Kepulauan Nusantara dibelah batas geografis yang membedakan flora, fauna, dan manusia. "Ras Melayu mendiami hampir seluruh bagian barat kepulauan itu, sedangkan ras Papua mendiami New Guinea (Papua) dan beberapa pulau di dekatnya...," sebut Wallace pada buku The Malay Archipelago (1869).

Selain sebutan kelompok Melayu, yang dinilai tidak tepat menggambarkan populasi manusia Indonesia di bagian barat, istilah "ras" sendiri belakangan tak dipakai lagi. Pakar genetika populasi asal Italia, Luigi Luca Cavalli-Sforza (2000), membuktikan bahwa membagi manusia dalam "ras" adalah usaha keliru. Secara biologis, hanya ada satu ras manusia modern, yaitu Homo sapiens, walaupun kemudian tiap populasi mengembangkan kebudayaan. Bahkan, ciri fisik berbeda sebagai adaptasi terhadap lingkungan yang berbeda.

Gelombang kedatangan
Ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo, pembicara konferensi, menolak pemisahan populasi manusia Indonesia di timur dan barat. Genetika manusia Indonesia adalah produk campuran dua atau lebih populasi moyang, walaupun presentasi genetika Austronesia lebih dominan di bagian barat Indonesia, sedangkan presentasi genetika Papua lebih tinggi di bagian timur Indonesia.

"Studi genetika di lima provinsi Indonesia yang dianggap bagian dari Melanesia menunjukkan ada pembauran genetika. Jadi, Melanesia bukan sebuah entitas gen yang tunggal, demikian juga Austronesia," ujarnya.

Bahkan, di Papua, yang selama ini dianggap wilayah yang dihuni hanya penutur Papua, ternyata secara genetika terjadi pencampuran, terutama di kawasan pesisir. Motif genetika (haplotipe) DNA-mitokondria P dan Q dan haplotipe C-M208, C-M38, dan M-P14 dalam kromosom-Y yang jadi penanda keberadaan genetika Papua juga ditemui dalam persentase sangat tinggi di Pulau Alor. "Jadi, tipe genetik Papua tidak khas hanya di Provinsi Papua dan Papua Barat," ucap Herawati.

Arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Harry Truman Simanjuntak, mengatakan, keberagaman manusia Indonesia dipengaruhi gelombang kedatangan dan jalur perjalanan yang berbeda walaupun asal- usulnya tetap satu, yaitu dari Afrika (out of Africa). "Kapan manusia modern (Homo sapiens) keluar dari Afrika memang masih kontroversi. Ada versi terjadi 100.000 tahun lalu, ada yang mengatakan 70.000 tahun lalu," kata Truman.

Migran awal dari Afrika inilah yang lalu mencapai kawasan Indonesia sekitar 60.000 tahun silam. "Mereka nenek moyang jauh sebagian masyarakat Indonesia di kawasan timur, yang sekarang sering disebut Melanesia ini," papar Truman.

Bukti-bukti keberadaan migrasi awal manusia modern ini bisa ditemui di banyak situs di Jawa Timur (Song Terus, Braholo, dan Song Kepek), Sulawesi Selatan (Leang Burung dan Leang Sekpao), serta di sejumlah wilayah lain Nusantara. Temuan lukisan tangan di Leang Timpuseng, Maros, berusia 40.000 tahun, dan yang tertua di dunia, juga berasosiasi dengan kelompok migran awal ini.

Di akhir Zaman Es, sekitar 12.000 tahun lalu, menurut Truman, kembali terjadi gelombang migrasi manusia ke Kepulauan Nusantara akibat perubahan iklim. "Mereka datang dari Asia daratan dan membuat diaspora ke berbagai arah, termasuk ke Nusantara," katanya.

Kelompok yang dikenal sebagai Austromelanesia atau Austroasiatik ini lalu mengembangkan hunian goa yang sebelumnya dilakukan manusia migran pertama dan melanjutkan tradisi berburu serta meramu. Gelombang migrasi berikutnya ke Nusantara adalah kedatangan populasi Austronesia (out of Taiwan) sekitar 4.000 tahun lalu.

Pembauran
Dari penelitian genetika, seperti dijelaskan Herawati, ternyata menunjukkan ada pembauran genetika melalui kawin-mawin penutur Austronesia dan Papua ini sejak fase-fase awal perjumpaan mereka, 4.000 tahun lalu. Dengan menganalisis DNA 2.740 individu dari 12 pulau, enam dari Indonesia barat dan selebihnya dari NTT (Sumba, Flores, Lembata, Alor, Pantar, dan Timor), Tumonggor (2013) menemukan pembauran intensif antara penutur Austronesia dan penutur Papua itu.

Jejak pembauran dalam genetika ini ternyata juga bisa dilihat dalam produk kebudayaan di antara dua penutur. Truman mencontohkan tradisi menyirih dan menginang dari Austronesia yang membudaya di Papua. Sebaliknya, arsitektur rumah penutur Austronesia di Wae Rebo, Flores, menunjukkan peminjaman kebudayaan Papua.

Pembauran ini, kata ahli bahasa dari Universitas Indonesia, Multamia RMT Lauder, juga terlihat dalam penggunaan bahasa. Sekalipun secara garis besar ada dua rumpun bahasa di Indonesia, yaitu Austronesia dan Papua, keduanya menunjukkan ada saling meminjam kata, terutama di Indonesia timur.

"Di kawasan ini, penutur Austronesia banyak pinjam bahasa non-Austronesia. Demikian sebaliknya. Pertukaran terutama terkait angka dan cara berhitung yang menunjukkan adanya barter dan perdagangan," tuturnya.

Bukti-bukti genetik, kebudayaan, hingga bahasa memang menunjukkan evolusi pembauran manusia Nusantara sejak ribuan tahun lalu, dan kian intensif sejak pembentukan Indonesia sebagai negara berdaulat tahun 1945. Jejak pembauran ini mestinya jadi bekal penting pembangunan ekonomi-politik Indonesia yang lebih adil dan merata, dari Aceh hingga Papua. Sumber: http://sains.kompas.com/ Link Asli: Kompas

No comments:

Post a Comment