Sunday, April 27, 2008

Mukjizat Cinta, Part #4

Ketika aku terus melamunkan hal itu, dan merasa tenang tanpa gangguan dariRekan kantor lain. seperti biasanya, aku agak melonjak kaget ketika pinturuang kerjaku diketuk. Segera kusahut untuk masuk saja karena pintunyamemang tak pernah terkunci.

Salah satu wartawan baru, yang cantik dengan rambutnya dikepang, kalau tidaksalah dia pernah ikut aku dalam mencari berita di lapangan masuk denganlangkah pasti setelah menutup pintu ruang kerjaku kembali. Aku kenal dia,Leika Pratiwi Subaeriadi namanya karena pernah menilai hasil tulisanberitanya, yang menarik dan cerdas. dan aku suka wanita yang pintar.

Pada awal mengenal lieka, aku sempat bergumam dalam hati Subaeradi, sebuahkemiripan dengan nama belakang ku Mohammad Asrulius Alexsander Sobaeradi.memang nama ku panjang, mijan sering meledek aku engga nikah-nikah karenakepanganjangan nama. dalam hati berkata "ah, nama Sobaeradi, kan banyak,Lagian kan ejaannya beda, Aku Sobaeradi dan dia Subaeradi" pikirku menepispikiran aneh yang terlintas di benakku"Pak, maaf jika saya mengganggu, bolehkah saya minta waktu sebentar soaltulisan berita" ucap laika kepadaku"Silahkan," kujawab dengan pendek.

Lama-lama menatap wajah leika yanglonjong dengan tahi lalatdekat bibirnya, kulitnya yang putih mulus dan bibir semanis madu ini,membuatku agak tertegunsejenak. Tapi segera kutepiskan pikiran macam-macamdari diriku, karena ada sesuatu yang melintas entah apa."Saya merencanakan membuat Berita Korupsi ini,"katanya dengan suaranya yanglembut. "Saya ingin Bapak menjadi Penasihat Berita saya. Itu jika Bapakbersedia, dan saya harapkan sekali kesediaannya, Karena bapak adalahwartawan senior di kantor ini."

"Apa Beritanya bisa menjual " tanyaku Kepada LeikaDengan lugas dia sampaikan tema yang akan dibahasnya, tentang kondisikorupsi seorang Anggota DPR yang ditanggkap Oleh Komisi PemberantasanKorupsi (KPK) yang dikaitkan dengan problema sosial saat ini. Aku sukapemilihan temanya, yang kurang banyak dilirik oleh wartawan lainnya.

Apalagisemangatnya tampak sekali ketika memberikan penjelasan disertai gerak tanganyang lincah percaya diri."Kenapa tertarik memilih tema ini?""Menurut saya, Korupsi ini fenomena yang menarik untuk diamati, danmempunyai nilai jual tinggi pak. dan masalah korupsi saat ini sangatdiminati oleh para pembaca berkait dengan semaraknya korupsi Di Indonesia,dan saya menambah kan dampak Korupsi dalam Pembangunan kehidupanbermasyarakat pak, itulah alasan saya, memilih berita ini utuk di cetak padaedisi besok."

"Jika begitu, buat saja Draftnya seperti biasa, dan nanti tolong kasih sayaya " kataku sambil sembunyikan kekagumanku atas argumentasinya itu.Tak menunggu lama, leika segera mengirimkan draf rancangan dari map merahjambu yang diambil dari atas meja kerjanya Hmm….aku suka anak ini, gesit danpercaya diri.

"Ini, Pak, silahkan periksa," ujarnya.Sepintas saja aku sudah tahu, pola pikir dan alur pemikirannya runtut sertasistematis. Pantas anak ini bisa di rekrut menjadi wartawan di media inioleh bagian HRD, apa yang ada di dalam tulisan berita ini menggambarkankecerdasannya."Jika Bapak setuju, saya minta bapak untuk menandatangani draftnya Tulisanini bisa segera diberikan kepada dewan redaksi," tegasnya."Baguslah jika begitu. Ada lagi yang ingin leika tanyakan?" kataku karenaingin segera mengakhiri percakapan itu, dan kembali kunikmati sepi.

Sepertikata ibuku bulan lalu, ketika aku menjenguknya setelah mendapat sms dantelepon berkali-kali yang mengabarkan beliau sedang sakit."Merenunglah dalam usiamu sekarang, apa yang sudah kamu lakoni dalam hidupini. Cobalah melihatnya dengan kaca mata jernih, dengan kata hati bening danmenyeluruh.""Ya, pak. Saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bapak."TuturWartawati baru tersebutAku tertegun.

Kukembalikan handphone ke sakucelanaku, setelah aku ingin mengirim sms kepada adikku, bertanya tentangkeadaan ibu. Seorang wartawan junior yang baru kukenal ini tahu hariulangtahunku? Apakah dia mau mencari simpati, merayu dalam bentuk lain. Ahtidak, pikirku tak percaya, karena dia tampak gadis yang baik-baik, tak adatatapan nakal di matanya yang indah.

"Kamu tahu darimana jika saya berulang tahun hari ini? Jika dari bukunovelku, rasanya tak tercantum di situ tanggal lahirku? Apakah dari Artikel,atau dari bagian HRD" Tanyaku"Coba beritahu, darimana kamu bisa mengetahui jika hari ini ulang tahunsaya? Apakah Pak Mijan yang membocorkannya?" tukasku sambil membayangkanMijan pasti ngiler melihat kecantikan wartawan baru yang satu ini.

Tapikenapa kok dia tak pernah memberitahu jika ada bunga cantik seperti leikaini."Bukan,pak. Saya tahu ulang tahun Bapak dari beberapa orang yang dekatdengan saya.""Heh…." Kataku sedikit terkejut"Benar,pak. Saya tahu sudah lama, bahkan sebelum menjadi wartawan di mediaini.""Saya selalu menulis ucapan selamat ulang tahun kepada Bapak. Ada yang dikartu pos, ada yang dalam bentuk surat.

Pernah membuat puisi, tapi saya tahubahwa saya tidak punya bakat seperti Bapak." Tutur LeikaKalau tadi aku tertegun, kini aku terkejut. Padahal aku termasuk orang yangjarang terkejut. Jarang ada hal-hal yang mampu membuatku terkejut.

Akuselalu tampak tenang menerima kabar apapun, jarang terlihat terkejut ataupanik. Aku ingat, saat kuliah teman-temanku menjuluki sebagai manusia es,karena aku terlalu dingin. Tapi bagaimanapun, ini mengherankanku.

Karuansaja aku memusatkan perhatianku, ingin tahu lebih lanjut terhadap apa yangakan dikatakannya."Siapa saja mereka itu, apakah saya mengenal mereka?" kali ini suarakuterdengar tak sabar."Pastilah Bapak mengenal mereka. Kakek dan Nenek saya, lalu Ibu saya….""Mereka kenal aku?" kupotong perkataannya dengan suara agak keras."Sangat kenal.""Siapa mereka?"

"Kakek saya Sasongko Sastrowijoyo, Sedangkan Mama saya Pratiw…"Sebelum gadis itu selesai bicara, aku yang tadinya berdiri karena penasaranatas ucapannya, langsung saja terduduk dengan wajah pucat. Kepalaku sepertidipasang kitiran, berputar-putar tak karuan. Gadis ini anak Pratiwi? Siapaayahnya?Setelah susah payah kutata perasaanku, kutatap mata leika lekat-lekat. Ya,mata ini kukenal sebagai mata Tiwi, sedangkan hidung ini…yang mancung danbagus, yang dulu sering kuelus.

"Jadi kamu puteri Pratiwi? Berapa saudaramu, lalu di Jakarta sini dengansiapa? Oh ya, ibumu dimana sekarang, di Semarang?" beruntun kuajukanpertanyaan padanya. Tak kupedulikan lagi urusan Berita, karena beritatentang ibunya saja sudah membuatku hampir terkapar saking kagetnya."Iya, Mama ada di Semarang bersama Kakek. Mereka baik-baik saja. Saya tidakmempunyai kakak atau adik, karena anak mama ya Cuma saya ini."

"Lalu…hmmm""Papa saya adalah Bapak." Kata leika seperti bisa membaca kelanjutanpertanyaanku, dan menjawabnya dengan tegas. Kepalaku kembali berputar, kaliini kuraih bibir meja agar tidak jatuh. Dengan sigap leika berdiri, memegangtanganku lalu memelukku."Papa…," bisiknya dengan suara bergetar. "Saya memang sengaja mendaftarkerja di sini untuk mencari pak Sobaeradi, melihat anda dari dekat. bahkantanpa sengaja saya memilih anda sebagai penasihat warta saya. Sebetulnya inginsaya katakan nanti saja, tapi entah kenapa sedari tadi saya tadi tak bisamenahan diri." ucap leika dengan cerdasnyaMendengar itu aku langsung memeluk leika, dan tak kupedulikan apakahtangisanku terdengar dari luar ruang kerjaku. Seperti kukuras semuakepedihan dan kesepianku. Kutumpahkan semuanya di wangirambutnya.

Bagai mendekap anak kecil, leika mengelus-elus rambutku sambilterisak. Dipanggilnya aku beberapa kali sambil terus menangis.Setelahdilihatnya aku mampu menguasai diri, leika berkata lagi, masih dengan suaramenggeletar."Papa tahu, sejak pergi dari sini, Mama pulang ke Semarang dan meskidimarahi habis-habisan tapi tetap tak mau menggugurkan kandungannya. Dia takmau membuang bayi itu, tak mau membuang saya. Kakek dan Nenek akhirnyaluluh, apalagi setelah Mama menyatakan kesanggupannya untuk terus kuliahhingga meraih gelar sarjana di Universitas Negeri di Semarang. Tapikekerasan hati mereka tetap tak terusik untuk mau mengakui Papa sebagaimenantunya. Demi saya, Mama akhirnya mengalah dan tak mau memberi kabarkepada Papa."

"Selalu dikatakannya, saya adalah buah hati dengan lelaki yang dicintainya.Mama menangis habis-habisan ketika Papa pernah datang ke rumah, dandiberitahu oleh Oom kalau Mama tak pernah ada di rumah lagi. Saya ingat,ketika itu Mama mengurung diri hingga berhari-hari."Aku terdiam. Sungguh, aku tak menyangka jika Tiwi berkeras kepalamempertahankan bayi yang dikandungnya. Kubayangkan, betapa dalampenderitaannya dalam usia muda harus melahirkan tanpa suami, lalu meneruskankuliah dengan bayi di rumah.

Dan Betapa besar rasa cinta Tiwi Kepadaku."Papa, kembalilah kepada kami. Mama tak pernah menikah, karena dia selaluyakin bahwa Papa juga melakukan hal yang sama."Aku tertunduk, ucapan leika begitu menyayatku. Tiwi ternyata memegang teguhkesetiaan yang pernah diucapkannya, ketika kami pertama kali melanggarlarangan itu.

Ketika aku melontarkan cemburuku melihat banyak mahasiswalain, bahkan yang senior tak henti menggodanya. Dan saat kami senang untukmelihat bintang."Kami tahu adanya Papa ketika suatu hari televisi menayangkan wawancara Papasebagai nara sumber. Sejak itu, Mama selalu rajin mencari tahu, bahkansampai membeli buku novel Papa di jakarta karena di Semarang waktu itu belumada toko buku yang mengedarkanya."

"Saya sendiri akhirnya minta ijin mama dan kakek untuk bisa melamar diperusahaan ini, saat perusahaan media ini menulis membutuhkan seorangwartawan. Mama mengijinkan, sambil berpesan agar jangan buru-buru membukaidentitas diri. Kakek juga berpesan, agar membawa Papa ke Semarang karenamereka sudah lama mencair kekerasan hatinya. Mereka tak peduli Papa masihmiskin atau tidak."Sambil berlinang air mata, kuanggukkan kepalaku sambil membentangkan keduatanganku lebar-lebar, dan kembali memeluknya dengan air mata yang terusmengalir.

Akhirnya aku dan Laika Segera pulang ke Semarang untuk menjemputtiwi.Aku, Tiwi, dan Leika ditemani gugusan bintang yang kami lihat malam itusemua hanya diam. Tak ada kata apa-apa yang mampu untuk kuucapkan. Hanyaangin yang masih mau berhembus mengelus-elus Awal pertemuan tadi bagikusangat-sangat mengharukan, aku bahkan merasakan suatu memori masa muda yangsangat indah ketika bertemu dengan Tiwi Aku serasa ingin mendekapnya untuksekian lama, untuk mengobati kehilangan setelah Dua Puluh lima dua tahun takbertemu. Kini aku telah menjadi seorang ayah dari seorang yang amat kucinta.

"Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a'yunwaj'alnaa lilmuttaqiina imaaman. Amiin. Allhamdulilah Atas semua Karuniamuyang luar biasa untuku Ya Allah." Lafal doakku dalam hatiSepasang tangan menyentuh siku, membimbing aku berdiri. Tak percaya sayamelihat, wajah putih bersih Tiwi muncul di hadapan Ku, Setelahberpuluh-puluh tahun. Kapal sudah tertambat dengan rapi, tanpa butuh tiangpancang. Jangkar sudah diturunkan dengan doa abadi. "Apakah kau bersedia,menerima kapal butut ini jadi mahar untuk menikahiku dan pria biasa ini jadisuamimu?" ujar aku kepada tiwi. Tak ada yang mampu berkata apa-apa lagi.Dalam hati penuh Hamdallah, wujud fisik hanya mampu bertukar dua senyumbahagia dalam siraman rahmat.

Harumnya serbuk bunga yang menyelamati kami,tak seharum ijab kabul yang menunggu setelahnya. "Segala puji bagi Allahyang menyelamatkan aku dari sesuatu yang Allah memberi cobaan kepadamu. DanAllah telah memberi kemuliaan kepadaku, melebihi orang banyak."Alhamdullilah, Terima Kasih ya Allah atas Mukjizat Cinta Mu. (Sarikata)


No comments:

Post a Comment