Monday, March 31, 2008

Tragedy Raja Rimba

Raja kelihatan lelah dan tua. Rambutnya yang putih kelihatan kusut masai acak acakan. Sinar matanya meredup membuat pudar kejantanannya. Dan yang paling menyedihkan, mahkota kebanggaan nya raib entah kemana. Nasib raja jadi kurang kepastian karena para panglima dan hulubalangnya saling berebut pengaruh.

Selama ini, raja memakai hukum rimba. Hitam putih peruntungan seseorang sangat tergantung pada kebaikan hatinya, atau lebih tepat sangat tergantung dari selera baginda. Maka tidak heran para panglima dan hulu balang suka menyandung dan cari muka dengan menjilat piring dan sisa sisa makanan raja. Pengaruh raja begitu besar, dan setiap gerak langkahnya akan membuat rakyat negeri merobah kiblat kearah mana raja berpaling. Begitulah hebatnya raja rimba.

Namun kini masa jaya itu mulai pudar seiring dengan usia dan otot otot yang mengendur. Jika dulu, dengan mendehem saja bisa merobah harga saham di bursa negeri tetangga, maka kini auman nan paling keraspun seolah tak bergema. Titah titahnya seakan angin sesat yang hilang arah. Para sobat pun sudah kurang peduli.

Desa kami gempar, segempar gemparnya. Tengah hari itu raja rimba muncul secara tiba tiba. Yang lebih menggemparkan, diatas punggung raja rimba duduk santai seorang gadis rupawan yang pastilah juga gadis rimba. Kentongan di palu bertalu talu, serine tanduk dihembus tanda bahaya. Halaman kampung pun jadi sepi karena semua mahluk pada lari mengungsi. “Ibu ibu dan bapak bapak, dan teman teman sekalian. Jangan takut, jangan lari, ini saya, Shinta, temanmu”. Suara itu tidak begitu asing, suara seorang gadis. Anak desa tetap diam dalam persembunyian, cuma mengintip dari celah gubuk masing masing. Mereka gemetar ketakutan, jangan jangan raja rimba minta tumbal. Konon jika raja rimba minta tumbal biasanya yang dicari “jeroan” gadis remaja. Menurut cerita, sudah banyak korban dari desa sekitar, anak anak remaja dimangsa raja rimba untuk mengambil hati, jantung dan limpanya.

Gadis ala tarzan itu beranjak turun dari punggung raja rimba dan melangkah menuju gubuk Shanti, ditengah perkampungan. “Mama,.. mama,... Shanti,.! ini saya Shinta” “Shinta?, benarkah engkau Shinta anakku? Shanti, coba perhatikan kok dia mirip benar dengan saudara kembarmu Shinta.” Ternyata memang benar. Gadis rimba itu adalah saudara kembar Shanti bernama Shinta yang hilang tujuh tahun lalu dan diduga sudah tewas dimangsa raja rimba.

Awal kisahnya memang soal sepele, tatkala Shinta dimarahi ibunya dan dianggap tidak becus bekerja dan selalu mengecewakan keluarga.

Kejadian tujuh tahun lalu jadi terungkap. Shinta menceritakan semua kisah dan suka dukanya selama jadi warga rimba Kerangen Tua. Kedua gadis kembar itu baru pulang menangkap ikan di sungai kecil di pinggir desa. Shinta sang adik kembar selalu bernasib mujur jika mereka menangguk ikan. Seperti biasa Shinta berjalan didepan menyusur ke hulu sungai diikuti sang kakak Shanti persis dihilirnya. Jika Shinta mendapat ikan jurung atau lemeduk, Shanti menyuruh adiknya memencet kepala ikan itu sampai mati, dihanyutkan lalu Shinta menangkapnya dihilir dan memasukkannya ke tadukan (tabung bambu tempat ikan) dipinggangnya.

Jika sang adik mendapat siput atau kepah sang kakak menyuruh Shinta memasukkan ke tadukan Shinta sendiri. Soalnya siput, kepah dan jenis kerang lainnya akan tenggelam jika dihanyutkan, sedangkan ikan yang sudah mati hanyut terapung. Tiba di rumah, ketika tadukan Shanti dituang, penuh ikan sedangkan tadukan Shinta cuma berisi siput dan keong sawah, maka sang ibu pun marah dan teriak pada Shinta, “Wah, kamu anak tak becus, masa dapatnya siput dan keong melulu! Dasar anak sial, sana pergi saja ke hutan, biar dimangsa raja rimba”.

Merasa tak bersalah dan terhina, pergilah Shinta mengembara keluar desa, sampai akhirnya bertemu raja rimba yang siap memangsa. Raja rimba dengan penuh nafsu ingin makan jeroan Shinta, namun dengan mohon belas kasihan si gadis kecil menyatakan bahwa jantung dan hatinya masih sangat kecil, nanti raja tidak puas. Setiap kali raja menanya apa jantung hati Shinta sudah gede, selalu dijawab, “Sabarlah baginda, setelah tujuh musim Shinta akan menyerahkan segala galanya, termasuk jantung dan hati hamba”

Bulan berganti tahun, akhirnya sesudah tujuh musim, sigadis remaja sudah kuat perkasa ditempa kehidupan rimba belantara, sementara sang raja rimba sudah tua dan mulai ompong giginya. Ketika raja rimba menuntut janji, maka Shinta ingkar dan lari memanjat pinang sendaren yang pohonnya keras berserat baja.

Raja murka dan berusaha mencakar dan menggigit pohon pinang sendaren, namun Shinta cuma tertawa melihat perilaku raja rimba, macan tua yang beringas. Tiga hari tiga malam Shinta berlindung diatas pohon pinang besar itu, dan akhirnya raja rimba menyerah kalah. Taring dan giginya pada copot berantakan, kuku kukunya berpatahan dan, raja rimba menjadi macan ompong, tua dan tiada berkuku lagi.

Shinta jadi kasihan juga pada raja rimba, karena diusianya yang tua, ompong dan tak berkuku, sudah loyo tak berdaya. Untuk mencari makanan saja terpaksa dibantu Shinta. Maka macan tua itu kini jadi kuda tunggangan Shinta untuk mengembara ke seantero rimba raya.

Begitulah tragedi raja rimba, akhirnya pasrah turun takhta dan bahkan jadi tunggangan Shinta si gadis desa. Warga desa sangat bangga pada Shinta yang bisa menaklukkan raja rimba Kerangen Tua. Puluhan tahun rakyat desa seputar hutan raya Kerangen Tua hidup penuh ketakutan karena keperkasaan dan kekejaman sang raja rimba, namun kini sang mancan tua sudah tidak berkuku lagi. Sejak itu desa kami aman tenteram tanpa tentara. Eh salah…..Sumbernya Lupa: ********

No comments:

Post a Comment