Saturday, May 03, 2008

Inisiatif berbasis masyarakat lokal..

Daerag Aliran Sungai BELITI, Terletak di 3 Kecamatan meliputi Kecamatan Kota Padang, Kecamatan Sindang Beliti Ulu, dan Sindang Beliti Ilir dengan luas 18.203,9 Ha. Adapun vegetasi yang ada dalam Hutan Di sekitar kawasan DAS Belitisangat heterogen baik tanaman kayu maupun tanaman non-kayu, di sisi lain Hutan Di sekitar kawasan DAS Belitimerupakan Daerah Tangkapan Air dari DAS Sungai Beliti. Sungai Beliti mempunyai peranan penting dalam menunjang aktivitas pertanian dan perkebunan masyarakat sekitar. Pada saat ini Hutan Di sekitar kawasan DAS Beliti mempunyai beberapa masalah, antara lain...


Aktivitas perkebunan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan yang sudah mulai masuk ke Hutan Lindung yang mengakibatkan rusaknya kondisi hutan lindung.
Aktivitas Illegal Logging yang cukup tinggi, hal ini juga ikut andil dalam kerusakan Hutan Lindung Balai Rejang Register VII Bukit Besar.
Desa Karang Pinang dan Letak dan Aksessibilitas

Desa Karang Pinang didefinitifkan pada tahun 1992. Secara adminsttratif wilayah kecamatan Beliti Ulu Kabupaten Rejang Lebong dengan luas wilayah 1.500 Ha. Jarak ke Ibukota Kabupaten ± 60 Km, jarak ke Ibukota Kecamatan ± 5 Km. Untuk mencapai Desa Karang Pinang alat transportasi yang data digunakan adalah Ojek dan Angkutan Umum dari Ibukota Kecamatan Padang Ulak Tanding, dengan biaya Rp. 10.000,- untuk ojek dan Rp. 5.000,- untuk angkutan umum.

Geografi dan Demografi

Di Desa Karang Pinang terdapat sebuah sungai besar yaitu Sungai Beliti sebagai sumber air untuk beberapa keperluan hidup seperti mandi, persawahan, dan lain-lain. Dari luas 1.500 Ha, ± 5 Ha berfungsi sebagai lahan persawahan dan ± 750 Ha lahan perebunan.

Produktifitas tanah di Desa Karang Pinang tergolong subur dengan wilayah datar dan sebagian bergelombang. Selanjutnya dari sisi orbitrasi kondisi Desa Karang Pinang dapat dilihat sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatas dengan Desa Air Kati
Sebelah Selatan berbatas dengan Bukit Besar (Hutan Lindung)
Sebelah Barat berbatas dengan Desa Tanjung Agung
Sebelah Timur berbatas dengan Desa Lubuk Alai
Jumlah penduduk Desa Karang Pinang berjumlah 1.750 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga 482 KK. Mata pencaharian penduduk Desa Karang Pinang 90% merupakan petani perkebunan, dengan komoditi antara lain : kopi, karet, jahe merah, padi. Wilayah Desa Karang Pinang secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu Pusat Desa (Dusun) dan Perkebunan (Petalangan). Petalangan terletak pada daerah perbukitan Desa Karang Pinang dengan jarak antara 1 Km sampai dengan 8 Km dari pusat desa, jika ditempuh dengan berjalan kaki kira-kira 2 jam perjalanan. Jumlah Kepala Keluarga di petalangan 214 KK dengan jumlah penduduk 819 jiwa. Dengan jumlah anak yang bersekolah tingkat Sekolah Dasar adalah 114 jiwa, tingkat Sekolah Menengah Pertama 14 jiwa, tingkat Sekolah Menengah Atas atau sederajat 2 jiwa. Mereka semua bersekolah diluar lokasi petalangan, untuk tingkat Sekolah Dasar berada di pusat Desa Karang Pinang dengan jarak ± 5 Km, untuk Sekolah Menengah Pertama berada di desa tetangga yaitu Desa Pengambang dengan jarak ± 10 Km, dan untuk Sekolah Menengah Atas berada di Kecamatan Padang Ulak Tanding tepatnya di Desa Kepala Curup dengan jarak ± 20 Km.
PERMASALAHAN

Setelah melakukan identifkasi dengan menggunakan metode PRA didapati beberapa masalah yang menjadi permasalahan utama di Desa Karang Pinang, masalah-masalah tersebut antara lain adalah, Rusaknya hutan yang diakibatkan ekspolitasi baik untuk perkebunan maupun Illegal Logging, Lemahnya kelembagaan tingkat desa baik formal maupun non formal, kondisi kesehatan masyarakat yang kurang baik, pertanian dan perkebunan tidak berhasil maksimal, tingkat pendidikan yang rendah, Sarana prasarana atau infrastruktur desa yang belum memadai, dan perkebunan rakyat yang homogen.

Rusaknya Hutan akibat Eksploitasi dan Illegal Logging
Dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat yang diiringi dengan aktivitas perkebunan masyarakat yang terus meningkat pula serta terbatasnya lahan yang tersedia menjadikan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya eksploitasi hutan yang tidak arif. Pengeksploitasian hutan ini juga disebabkan oleh aktivitas Illegal Logging yang cukup tinggi, ini disebabkan karena banyaknya ”orang-orang berduit” yang masih melihat bahwa kayu adalah salah satu bisnis yang sangat menguntungkan, apalgi kayu dari hutan lindung.

Kelembagaan Desa
Kelembagaan desa yang ada masih sangat lemah ini disebabkan oleh kurangnya kapasitas individu-individu yang duduk di lembaga tersebut. Di lain sisi kelembagaan yang ada tidak mempunyai aturan yang jelas, dan perencanaan detail kegiatan(program Kerja) serta tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah menyebabkan kesadaran masyarakat juga rendah dalam mendayagunakan lembaga-lembaga yang ada. Hal lain yang membuat kelembagaan desa menjadi lemah adalah mulai lunturnya nilai-nilai adat leluhur mereka dalam menjalani hidup dan kehidupannya.

Kesehatan
Masalah yang sangat terasa dan mengakibatkan tingkat kesehatan yang rendah adalah tidak adanya fasilitas air bersih, sehingga masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya termasuk MCK sangat bergantung dengan air Sungai Beliti. Selain itu tidak adanya sarana kesehatan di desa karang pinang, sehingga untuk dapat mencapai pusat kesehatan terdekat masyarakat sudah harus mengeluarkan biaya transportasi ke Desa Lubuk Alai dengan biaya ± Rp. 5000,- belum lagi dengan biaya perobatan yang harus dikeluarkan, sehingga masyarakat menjadi malas untuk berobat dan cenderung menggunakan teknik-teknik perobatan tradisional.

Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan
Bukit Besar menjadi hulu dari Daerah Aliran Sungai (DAS) sehingga mempunyai peranan penting dalam hal menunjang pertanian untuk desa sekitar antara lain Desa Karang Pinang, Tanjung Agung, Pengambang, Jabi dan Tanjung Heran, dan dengan rusaknya Hutan Di sekitar kawasan DAS Beliti menyebabkan hasil pertanian mengalami penurunan. Bahkan sudah ada beberapa sawah yang tidak lagi produktif dengan mengecilnya debit air Sungai Beliti.

Aktivitas perkebunan di sekitar kawasan Hutan Di sekitar kawasan DAS Beliti sangat tinggi, karena penduduk sekitar mayoritas bermata pencaharian sebagai petani perkebunan. Dengan tidak sebandingnya luas lahan dan jumlah petani perkebunan menjadikan hutan lindung sebagai salah satu alternatif dalam membuka lahan perkebunan. Hal diperparah dengan masih adanya beberapa orang yang masih menggunakan cara ladang berpindah, sehingga banyak lahan yang kini telah menjadi semak belukar karena ditinggalkan penggarapnya. Disisi lain aktivitas Illegal Loging mempunyai peranan penting dalam rusaknya kawasan Hutan Di sekitar kawasan DAS Beliti dengan bisnis utamanya kayu, yang didukung oleh ”orang-orang berduit”.

Sektor Pendidikan
Permasalahan yang terjadi di sektor pendidikan adalah kurangnya kesadaran orang tua dalam menyekolahkan anaknya dan masih beranggapan sekolah bukan merupakan hal yang penting. Selain itu pula banyaknya anak-anak yang ikut orang tua berkebun di talang-talang, sehingga untuk bersekolah harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan berjalan kaki.

Permasalahan disektor Infrastruktur.
Permasalahan yang ada pada sektor infrastruktur adalah jalan yang menghubungkan Desa Karang Pinang dengan desa sekitar dalam kondisi rusak parah, begitu juga jalan yang menghubungkan Desa Karang Pinang dengan perkebunan talang-talang perkebunan. Selain itu pula belum adanya Balai Desa, Kantor Desa, Pusat Kesehatan Masyarakat.

Ancaman.

Dengan banyaknya permasalahan yang kini dan akan terjadi akan membuat kehidupan masyarakat semakin tidak jelas. Lemahnya lembaga desa akan mengakibatkan tidak berjalannya system pemerintahan sebagaimana mestinya, hal ini akan berimbas dengan tidak dapatnya lembaga desa mengakomodir kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Dengan tidak adanya fasilitas air bersih akan mengakibatkan makin tercemarnya sungai beliti karena makin dengan makin meningkatnya jumlah penduduk maka makin berat pula beban sungai beliti dalam menampung limbah-limbah masyarakat termasuk limbah rumah tangga.

Aktifitas perkebunan dan Illegal Logging akan mengakibatkan rusaknya daerah tangkapan air dan berimbas kepada semakin mengecilnya debit air Sungai Beliti, dan akhirnya sawah-sawah akan sulit mendapatkan air, belum lagi dengan kemungkinan akan mengakibatkan bencana-bencana lain yang semakin besar seperti banjir, longsor dan sebagainya. Dengan kondisi pendidikan dan pola pikir masyarakat dan tingkat pengetahuan yang ada sekarang akan mengakibatkan masyarakat Desa Karang Pinang akan makin tertinggal dan akan semakin menjadi masyarakat yang bodoh serta sulit keluar dari kemiskinan.

No comments:

Post a Comment