Wednesday, August 19, 2015

Erich Fromm, Segala macam tentang Cinta

The Art of Loving, membaca judul buku ini membuat saya berimajinasi tentang kiat-kiat mencintai dengan benar. Tapi setelah habis membacanya, premis saya salah besar. Saya dibawa ke dunia yang berbeda oleh penulisnya, Erich Fromm. Fromm membawa pembacanya untuk tidak memaknai cinta secara harfiah, walaupun di satu sisi Fromm juga tidak menghilangkan pengertian harfiah atas cinta. Buku ini dimulai dengan sebuah pertanyaan: Apakah cinta adalah seni? Dari pertanyaan itu, pembaca digiring oleh Fromm untuk memahami bahwa cinta adalah sebuah usaha yang membutuhkan banyak pengetahuan.
Dalam kebudayaan kontemporer, cinta seperti tidak mempunyai tempat. Semua hal didasarkan pada selera pasar yang saling menguntungkan sehingga cinta mulai dianggap hambar jika tidak membuahkan hasil yang empirik. Pada akhirnya, manusia akan gagal memaknai cinta. Gagasan yang ditawarkannya dalam buku ini ialah agar manusia kembali memaknai cinta serta menyadari bahwa cinta adalah seni.
Menurut Fromm, untuk menyadari cinta adalah seni, manusia memerlukan pembelajaran tentang seni; penguasaan atas teori dan juga praktiknya.
Merasionalkan Hakikat Cinta
Fromm menulis ‘teori apa pun tentang cinta harus mulai dengan teori tentang manusia, tentang eksistensi manusia.’ Dalam hal ini, manusia adalah makhluk yang dilahirkan dengan rasio, yang sadar akan dirinya. Secara tidak langsung, manusia juga akan memikirkan hal lain yang ada di sekelilingnya. Salah satunya yang harus dipikirkan oleh manusia untuk memaknai cinta sebagai seni adalah bagaimana melampaui kehidupan individual masing-masing dan mencapai suatu keutuhan.
Dengan mengesampingkan aspek individualistik, manusia akan kehilangan perasaan cemas yang disebabkan oleh keterpisahan. Fromm memberikan contoh bagaimana tindakan seksual tanpa cinta tidak akan menjembatani jurang antara dua insan manusia, kecuali untuk sesaat.
Dalam buku ini, Fromm menjelaskan sebuah paradoks dalam cinta, yaitu bahwa dua insan menjadi satu, namun tetap dua. Paradoks itu muncul atas dasar penyatuan di dalam kondisi tetap memelihara integritas seseorang. Dalam hal ini, cinta tidak mengharuskan manusia mengorbankan jati dirinya untuk membangun sebuah keutuhan. Tapi lebih pada menyatukan dua hal yang akan menghancurkan tembok bernama keterpisahan.
Cinta menurut Fromm adalah sebuah aktivitas yang akan menuntut individu merasakan dirinya sebagai seseorang yang dapat berguna bagi orang lain. Namun tidak berarti individu itu harus menuruti perintah. Cinta tetap didasari oleh kebebasan memilih, seperti salah satu lagu Perancis kuno yang dikutip Fromm dalam bukunya ini: cinta adalah anak kebebasan, sama sekali bukan anak dominasi.
Karena cinta adalah anak kebebasan, maka untuk memaknai hakikatnya, Fromm membagi beberapa objek cinta dalam buku ini. Pertama adalah cinta sesama, cinta atas nama kesetaraan sebagai manusia yang melingkupi tanggung jawab, kepedulian, respek dan pemahaman tentang manusia lain. Kedua,cinta ibu. Fromm menganggap cinta ibu adalah cinta yang paling tulus di antara objek cinta yang lain. Karena cinta ibu adalah sebuah aktivitas memberi tanpa tendensi apapun kecuali melepas anaknya untuk jadi dewasa. Ibu sebagai sebuah rumah awal layaknya kepompong yang akan membimbing anaknya untuk bebas memilih jalannya.
Selanjutnya yang ketiga adalah cinta erotis. Cinta erotis dijabarkan Fromm sebagai cinta yang eksklusif tidak seperti cinta sesama dan cinta ibu. Cinta erotis tidak mempunyai aspek universalitas dan lebih mendambakan kekuasaan atau peleburan total antarindividu. Cinta diri adalah yang keempat. Cinta ini, menurut Fromm, pada hakikatnya adalah sebuah usaha untuk menerima tanpa melakukan aktivitas memberi. Lalu yang terakhir adalah cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah sama dengan cinta ibu dan bapak. Bisa dilihat secara tidak langsung, bahwa, cinta Allah melindungi dan menaungi kita seperti cinta seorang ibu. Di lain sisi, cinta Allah juga menghukum kita ketika kita salah seperti cinta seorang bapak.
Tergerusnya Cinta
Selain membahas tentang teori cinta dan beberapa objek cinta, The Art of Loving juga membahas tentang tergerusnya cinta dalam masyarakat Barat kontemporer. Fromm menjelaskan dalam masyarakat Barat kontemporer, objek cinta sudah digantikan dengan sejumlah cinta-semu yang pada kenyataannya adalah awal kehancuran cinta. Dalam hal ini, Fromm tak lagi membahas cinta antarindividu tapi lebih universal lagi yaitu hubungan sosial manusia
Masyarakat Barat kontemporer yang kebanyakan berpaham kapitalis mendasarkan semua hal pada prinsip kebebasan politik serta pasar sebagai pusat dari kehidupan. Oleh karenanya, hubungan sosial menjadi terpinggirkan. Pada akhirnya manusia modern teralienasi dari dirinya sendiri, sesama dan alam.
Menurut Fromm, dewasa ini, kebahagiaan manusia  adalah bersenang-senang dengan cara mengonsumsi segala hal yang mereka ciptakan sendiri. Selain itu, persaingan antarindividu untuk menjadi lebih baik juga merupakan salah satu hal yang menbahagiakan. Di sini, manusia secara tidak langsung diasingkan dari dirinya sendiri. Manusia dijadikan objek oleh benda-benda yang mereka ciptakan sendiri
Lantas, ketika manusia disibukkan dengan kesenangan-kesenangan semu itu, cinta sedikit demi sedikit tergerus. Hakikat cinta mulai ditentukan oleh pasar dan pada akhirnya hakikat cinta sebagai aktivitas tak ada lagi. Dalam hal ini, Fromm mengungkapkan bahwa masyarakat yang relatif meniadakan cinta, dalam jangka waktu panjang, pasti binasa lantaran kontradiksinya sendiri dengan kebutuhan dasar akan hakikat manusia.
Fromm mengakhiri buku ini dengan mengajak pembaca berdiskusi sebelum mempraktikkan cinta. Fromm mengungkapkan ada tiga aspek penting yang perlu didiskusikan dan dipikir ulang yaitu; kedisiplinan, konsentrasi dan perhatian penuh. Karena menurut Fromm, ketiga hal itulah yang mempengaruhi kedisiplinan mencintai.
Pada satu sisi, Erich Fromm mengajak pembaca untuk memaknai lebih apa yang disebut sebagai cinta dalam buku ini. Di sisi lain, Fromm juga memberikan kritikan pedas terhadap masyarakat yang mulai apatis dengan hakikat cinta sebagai kebutuhan dasar manusia untuk hidup. Selain itu, buku ini juga mengajak kita untuk menjadi lebih kritis dalam memandang kehidupan cinta kita. Sejauh dan sebesar apapun cinta kita tetapi cinta itu malah membuat kita jauh dari masyarakat, berarti kita gagal memaknai hakikat cinta. Selamat membaca dan memaknai hakikat cinta.[]
Judul: The Art of Loving, Memaknai Hakikat Cinta
Penulis: Erich Fromm
Penerbit:  PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Mei 2014
ISBN: 978-602-03-0408-3
Tebal Buku: 188 halaman

No comments:

Post a Comment